Takut Dan Marah

December 16, 2007 / by yogaskater

Takut dan Marah
Menurut Pandangan psikologi faal
I. Takut
Takut ialah suatu emosi yang ditandai oleh perasaan tidak enak, ketegangan, dan dimana munkin disertai usaha menghindar atau melarikan diri juga dapat keterlibatan dari sistem saraf otomon atau respon emosional terhadap bahaya sesungguhnya maupun yang ada dalam alam imaginasi. Respon ini ditandai dengan agitasi yang hebat disertai perubahan-perubahan somatik ( misalnya detak jantung cepat) dan usaha melepaskan diri atau bersembunyi. Dengan demikian takut ialah salah satu emosi dasar yang ada pada manusia.
Menurut penelitian yang dilakukan Jennifer Lerner, psikolog dari Carnegie-Mellon University, tahun 2005. meneliti mengenai perbedaan efek yang ditimbulkan dari Takut pada situasi yang penuh stres. Caranya untuk menciptakan situasi ini dalam laboraturium pun cukup unik: Di depan kamera, ia meminta mereka untuk menghitung mundur dalam kelipatan 7 atau 13 dari angka-angka ajaib seperti 6233 atau 9095. Lerner juga membuat partisipan semakin kesal dengan menyuruh mereka mempercepat hitungan atau mengulang dari awal jika salah menyebut angka. Untuk memastikan apakah para partisipan merasa marah atau takut, rekaman video mereka dianalisis dengan mengamati tarikan otot-otot tertentu di wajah yang muncul dalam emosi takut. Hasilnya, para subyek yang menunjukkan rasa takut menghasilkan tekanan darah tinggi dan pengeluaran hormon stresnya. Secara faali dari emosi marah ini ialah
Stimulant rasa takut Thalamus Korteks
Hypotalamus
Reaksi tubuh
Reaksi dalam tubuh Perilaku yang nampak
Meningkatnya Adrenalin Panik, menjerit (scream) dan lari
Mebesarnya pembuluh darah
(Arnold-Ellis Theory)
Penjelasan :
Sebuah stimulan rasa takut seperti melihat hantu, dikejar anjing dan dikejar orang gila. Maka stimulus tersebut akan ditangkap oleh alat indra ( sensasi) kemudian saraf reseptor pada alat indra sebagai penerima dan pendistributor stimulus. Saraf reseptor jugalah yang mencoding stimulus menjadi berupa impluse (electrochemical) kemudian sampailah “impluse rasa takut” itu pada sistem limbik. Sistem limbik yang berkaitan dengan ini ialah thalamus dan hipotalamus. Thalamus disini berfungsi sebagai alat penerima untuk semua pesan yang datang dari organ pancaindra. Setelah diterima oleh talamus kemudian impluse itu dipindahkan kedalam korteks untuk diidentifikasi dengan informasi-informasi yang ada di neuron-neuron dengan cara Assosiasi. Setelah impluse itu di-identifikasi maka kortek akan meminta hipotalamus untuk mengendalikan reaksi hormon takut. Setelah hypotalamus sebagai pusat emosi dan pengatur hormonal tubuh manusia sesuai dengan emosi yang muncul dan disesuaikan dengan reaksi hormonal. Maka hipotalamus memerintahkan kepada sistem hormonal tubuh untuk mengeluarkan hormon Adrenaline sebagai perlindungan Homeostatis, dikarenakan hormon andrenaline diproduksi sistem hormon tubuh untuk menandakan bahwa ada Unbalance dalam sistem saraf tubuh maka efeknya sistem akan “terpacu” dalam artian organ-organ tubuh akan bekerja intensif selayaknya mesin yang diberi bahan bakar Nitrogen, maka dalam hal ini kinerja jantung akan besar dan memompa darah keseluruh tubuh dengan cepat, maka pembuluh-pembuluh darah akan membesar bahkan bisa pecah . Hipotalamus juga memerintakan panca indra untuk mengisolasikan stimulus rasa takut itu atau menjauhi stimulant rasa takut agar sistem tubuh kembai stabil seperti berlari menjauh stimulan rasa takut, menutup muka, menjerit, menangis proses ini dinamakan Quikly Concious . Yang membedakan dengan emosi lain ialah rasa takut itu peng-identifikasi oleh otak (cerebal kortek) sebagai emosi yang cenderung pesimistik (unoptimistic) dan tak berdaya.
Akan tetapi menurut saya, takut yang di-identifikasi oleh otak (corteks) itu tidaklah digeneralisir. Karena otak (Korteks) sangatlah analis artinya dia akan membedakan takut berdasarkan kategori-kategori, jenis dan konteksnya. Mungkin penjelasan diatas bisa dibenarkan dalam konteks penelitian yang dilakukan oleh Jennifer Lerner. Seperti takut terhadap tuhan tentu akan berbeda dengan takut terhadap hewan, manusia dll. Maka dengan itu reaksi/respon marah baik internal maupun eksternal ialah relativly.
II. Marah
Marah adalah reakasi emosional terhadap kekecewaan, terluka, perlakuan campurtangan dan sebagainya yang dicirikan dengan ketidaksenangan dan permusuhan. Kemarahan dapat membangkitkan agresi dan disertai dengan berfungsinya saraf otonom. Rasa marah bisa dibilang termasuk salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia; ketika kita menghadapi suatu ancaman, maka kita dapat merasa marah dan kemudian melawan (fight) alih-alih selalu takut, lalu melarikan diri (flight). Namun walau kegunaan evolusionernya sangat luas, kini semua institusi besar dunia (termasuk agama) menganggap amarah sebagai insting hewani yang harus dikendalikan. Tentu tidak mudah untuk melakukannya; bahkan orang yang mengaku paling beradab sekalipun selalu memiliki kemungkinan untuk ‘meledak’ suatu saat. Tapi jika kita marah dalam porsi yang terkontrol (juga tepat sasaran), rupanya ada manfaat sampingan yang bisa kita rasakan. Simak dua penelitian berikut, seperti yang dilaporkan oleh situs LiveScience.
Penelitian mengenai efek lain dari rasa marah datang dari Wesley Moons dan Diane Mackey , psikolog dari University of California. Ia memberi dua perlakuan berbeda pada dua kelompok partisipan: meminta mereka menuliskan pengalaman saat mereka begitu marah, atau meminta mereka menuliskan harapan dan impiannya yang kemudian dikritik oleh partisipan lainnya. Diikutsertakan pula sekelompok partisipan yang tidak diberi perlakuan apapun sebagai kelompok kontrol. Ketiga kelompok itu kemudian diminta untuk membaca dua esai argumentatif; satu didukung oleh fakta-fakta ilmiah dan ‘ditulis’ oleh pihak yang kredibel, sementara esai lain tidak memiliki keduanya.
Moons dan Mackey menemukan bahwa para partisipan yang marah akan menjadi lebih analitis; mereka dapat membedakan antara argumentasi yang kuat dengan yang lemah, serta merasa lebih teryakinkan oleh esai yang memiliki argumentasi kuat. Hal ini tidak ditemukan pada partisipan yang tidak marah. Ketika eksperimen diulangi pada partisipan yang memang ‘berkepribadian’ tidak jeli, ternyata rasa marah juga dapat membuat mereka lebih kritis dan hati-hati dalam melihat suatu permasalahan. Menurut para peneliti itu, rasa marah membantu seseorang untuk mendasarkan keputusan mereka pada inti masalah yang benar-benar penting dan mengabaikan yang kurang penting.
Beberapa komponen yang terkait dengan rasa marah dalam tinjauan faali :
Stimulant rasa marah Thalamus Korteks
Hypotalamus
Reaksi tubuh
Reaksi dalam tubuh Perilaku yang nampak
Meningkatnya Hormon Cortisol Agresif
Membesarnya pembuluh darah Muka merah
(Arnold-Ellis Theory)
Pada pysiological system dalam proses emosi itu mungikin sama seperti halnya rasa takut dan rasa marah akan tetapi singkatnya : stimulus tersebut akan ditangkap oleh alat indra ( sensasi) kemudian saraf reseptor pada alat indra sebagai penerima dan pendistributor stimulus. Saraf reseptor jugalah yang mencoding stimulus menjadi berupa impluse (electrochemical) kemudian sampailah “impluse rasa marah” itu pada sistem limbik. Sistem limbik yang berkaitan dengan ini ialah thalamus dan hipotalamus. Thalamus disini berfungsi sebagai alat penerima untuk semua pesan yang datang dari organ pancaindra. Setelah diterima oleh talamus kemudian impluse itu dipindahkan kedalam korteks untuk diidentifikasi dengan informasi-informasi yang ada di neuron-neuron dengan cara Assosiasi. Setelah impluse itu di-identifikasi maka kortek akan meminta hipotalamus untuk mengendalikan reaksi hormon takut. Setelah hypotalamus sebagai pusat emosi dan pengatur hormonal tubuh manusia sesuai dengan emosi yang muncul dan disesuaikan dengan reaksi hormonal. Maka hipotalamus memerintahkan kepada sistem hormonal tubuh untuk mengeluarkan hormon Cortisol sebagai perlindungan Homeostatis, dikarenakan hormon cortisol diproduksi sistem hormon tubuh untuk menandakan bahwa ada Unbalance dalam sistem saraf tubuh maka efeknya sistem akan “terpacu” dalam artian organ-organ tubuh akan bekerja intensif selayaknya mesin yang diberi bahan bakar Nitrogen, maka dalam hal ini kinerja jantung akan besar dan memompa darah keseluruh tubuh dengan cepat, maka pembuluh-pembuluh darah akan membesar bahkan bisa pecah. Efek dari meningkatnya kinerja jantung yang berlebih menimbulkan perluasan pembuluh darah. Oleh karena itu, apabila kita lihat Face orang yang sedang marah itu mukanya merah seperti kepeting rebus dan mata merah. Tubuhnya pun hangat (warm).
Meski penelitian di atas menunjukkan efek positif dari rasa marah, ini bukan berarti kemudian kita bisa marah-marah sepuasnya dan seenaknya. Rasa marah yang eksplosif, intens, dan berkepanjangan sudah lama diketahui menyebabkan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, masalah paru-paru, dan penyembuhan luka yang lebih lama . Tapi dalam situasi menekan di mana reaksi marah dapat ‘dibenarkan’, marah dalam kadar yang terkontrol dan singkat bisa menjadi respon yang sehat dan adaptif.

2 comments on Takut Dan Marah

  • hery setiawan said 5 months ago

    materi nya bagus, tp tolong yang detail........... krna saya buat tugas tentang hormon ini

     

  • delvirah singkuang said 4 months ago

    buat saya materinya udah cukup bagus, karena saya lagi bikin tugas..

Add a comment

To add comments without entering your email and image verification, you must be logged in. Login or Join Blogster

  • Type the words in the box below the image.

Email this blog post to a friend

To email posts to friends, you must be logged in. Login or Join Blogster

Friends

yogaskater currently has no Blogster friends

Add him as a friend and send him a friendly welcome!